Hotel Terbaik di Aceh Singkil

Sabtu, Juli 29

Posted by Hotel Singkil 29 Juli in

The Sapo Belen bersama Menteri Luar Negeri Jerman. Ketika ada pertemuan akbar antara mahasiswa se Asia di Kalsruehe yg digagas DAAD saya berkesempatan berbincang bincang dengan Menteri Luar Negeri Jerman, Dr. Klaus Kinkel.

Herr Klaus Kinkel ternyata sangat ramah terhadap mahasiswa- mahasiswa asing, khususnya dari Indonesia

Posted by Hotel Singkil 29 Juli in

Saya berkesempatan bertemu Presiden Habibie berkunjung ke kota Bonn, Jerman.

Beliau sangat-sangat penduli terhadap pembangunan SDM bangsa Indonesia. Ketika beliau menjabat Menristek banyak sekali putra putri terbaik bangsa dikirim belajar, terutama ke Eropa dan Amerika

Jumat, Juli 7

Posted by Hotel Singkil 07 Juli in

Lae Trup adalah kejutan. Keanekaragaman hayati masih elok tumbuh di sana. Terletak tak jauh dari kota Singkil yang riuh kendaraan, Lae Trup seperti kedap suara, hening menenangkan.

Di sana alam mengajarkan kepada kita tentang kecukupan nafkah manusia yang diberikan Tuhan. Seorang penangkap lele dengan alat tangkap yang sederhana mampu menghidupi keluarganya. Lele sale alam yang gurih ini, dijual di kota, sekilo harganya 250 ribu rupiah. Sedapat beberapa kilo seminggu tentu sudah membahagiakan pengasap ikan rawa ini.

Lae Trup adalah Amazon mini. Sungai kecil di Rawa Singkil ini sama kaya akan karbon oksigen yang vital bagi dunia. Aneka hayati yang tumbuh di sana adalah keunikan tersendiri; anggrek hutan di antara ribuan jenis tanaman menjadikan Lae Trup sebagai taman firdausi tropika.

Tengoklah burung rangkong terbang dari ranting ke ranting. Orangutan yang bergantung di pohon seperti memberi salam penyambutan. Menjelang senja para monyet mempersiapkan tempat tidurnya di ketinggian pohon. Bermacam tumbuhan langka dengan mudah kita temukan di pinggir sungai yang tak seberapa lebar itu. Inilah bahan baku farmasi yang melimpah.

Air sungainya hitam tapi bersih, tak berlumpur. Apabila kita mencebur ke dalam airnya. lebih sejuk daripada temperatur air sungai besar tempat Lae Trup berakhir.

Sungai berwarna hitam itu hasil rendaman ribuan akar dan dedauanan. Mengendap, bercampur dan mengalir. Maka pak Giring yang saya jumpai di Teluk Rumbia, desa terakhir menuju Lae Trup menceritakan jika warga desanya merasa kurang sehat, maka ada yang berkayuh ke Lae Trup untuk mengambil air. Tanpa dimasak air tersebut diminum untuk menyehatkan si sakit.

Air campuran akar daun ini mereka anggap mampu menyehatkan kembali. Bukanlah tahayul tindakan itu, karena obat farmasi pun berasal dari tumbuh-tumbuhan. Kita yang dari kota, mungkin menganggap aneh. Sebab kita sudah lama dijerat iklan obat!

By Ali Djauhari

Arsip Blog

Sponsor Link

Insert Your Email